Makmur, anggota Linmas di Bekasi, harus bertahan di tengah kondisi rumah yang nyaris roboh. Setiap hujan dan angin kencang datang, rasa khawatir terus menghantuinya karena takut bangunan ambruk dan membahayakan anak serta istrinya.
"Kalau hujan saya enggak bisa tidur. Anak istri saya tidur, saya enggak bisa tidur, ngawasin anak istri saya takut genteng pada rubuh," ujar Makmur di rumahnya di daerah Duren Jaya, Bekasi, Minggu (13/9/2026).
Kondisi atap rumah Makmur terlihat rusak parah. Bahkan ruang tengah sudah tak lagi beratap.
Tersisa hanya genteng di sisi bagian belakang dan depan. Sementara, tembok-tembok rumahnya pun terlihat sudah keropos.
Saat hujan turun, air dapat langsung masuk ke dalam rumah.
Dengan penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan sebagai anggota Linmas, ia mengaku tak sanggup menanggung biaya perbaikan rumah yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 60 juta.
Makmur sempat meminta bantuan pada kelurahan agar rumahnya masuk dalam program perbaikan rumah tidak layak huni. Hanya saja informasi yang dia ketahui, kelurahan bisa memberikan Rp 20 juta.
Tapi sayangnya jumlah itu tidak bisa memperbaiki kondisi rumahnya.
Ia berharap bantuan perbaikan rumah dapat dipercepat dan tidak harus menunggu hingga 2027.
"Saya minta dipercepatlah gitu, supaya saya bisa tidur enggak was-was rubuh, kehujanan, keanginan," kata dia.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini.
Penulis: Cynthia Lova
Video Jurnalis: Cynthia Lova
Video Editor: Cynthia Lova
Produser: Nursita Sari
#LinmasBekasi #RumahNyarisRoboh#Bekasi #RumahTidakLayakHuni #vjlab