Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) merespons pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait ketersediaan batu bara sebesar 170 juta ton untuk kebutuhan domestik.
Menurut Fabby, angka 170 juta ton yang disampaikan Menteri ESDM merupakan alokasi Domestic Market Obligation (DMO) yakni kewajiban bagi seluruh perusahaan tambang batu bara untuk memasok 25 persen dari total produksinya ke pasar dalam negeri.
Kalau saya membaca pernyataan Pak Menteri ESDM, Beliau mengatakan bahwa alokasi domestik sudah mencapai 170 juta ton. Memang itu adalah alokasi DMO. Sesuai aturan, semua perusahaan penambang batu bara wajib mengalokasikan 25 persen produksinya untuk kebutuhan dalam negeri, ujarnya kepada Kompascom.
Fabby menjelaskan, jika kebutuhan batubara domestik mencapai 170 juta ton per tahun, maka rata-rata kebutuhan per bulan berada di kisaran 14-15 juta ton. Dengan ketentuan DMO sebesar 25 persen, maka total produksi batubara nasional yang dibutuhkan untuk memenuhi angka tersebut seharusnya berada di kisaran 650-670 juta ton.
Namun, ia mengingatkan bahwa pada awal tahun, Kementerian ESDM membatasi produksi batubara nasional di angka 600 juta ton. Meski belakangan pemerintah berencana merevisi batas produksi tersebut hingga sekitar 700 juta ton, kebijakan itu masih dalam proses.
Kita juga melihat bahwa baru belakangan ini Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sejumlah perusahaan diselesaikan. Kalau tidak salah, sampai Jumat lalu sekitar 560 juta ton yang sudah disetujui. Tapi jumlah itu masih belum cukup, katanya.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini
Penulis: Siti Laela Malhikmah
Video Jurnalis: Siti Laela Malhikmah,
Video Editor: Siti Laela Malhikmah
Produser: Abba Gabrillin
#BahlilLahadalia #Bahlil #PLN #Energi
#BatuBara #BeritaHariIni #News ##vjlab