KOMPAS.TV - Pemerintah AS menyatakan operasi militer bertajuk Epic Fury di Iran telah berakhir. Keputusan ini juga telah disampaikan kepada Kongres Amerika Serikat.
Hal ini ditegaskan Menlu AS, Marco Rubio. Usai operasi Epic Fury berakhir, AS kini menjalankan tahap Project Freedom, atau misi untuk melepaskan kapal-kapal yang sebelumnya terjebak di Selat Hormuz.
Selain itu, AS bersama sejumlah negara Teluk mengusulkan resolusi baru Dewan Keamanan PBB yang dirancang untuk mengecam Iran karena memblokade Selat Hormuz.
Menlu AS, Marco Rubio mengatakan langkah ini diambil karena Iran terus menyandera perekonomian dunia dengan menutup jalur laut vital tersebut.
Resolusi itu akan mewajibkan Iran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal dagang dan upaya memungut tarif bea masuk pada pelayaran di selat tersebut.
Resolusi itu juga menuntut Iran untuk berhenti menempatkan ranjau laut di Hormuz serta mengungkapkan lokasi ranjau-ranjau tersebut.
Sementara itu, Menlu Iran Abbas Araghchi menemui Menlu Tiongkok. Pertemuan ini berlangsung seminggu menjelang pertemuan Donald Trump dengan Xi Jinping.
Dalam pertemuan tersebut, Tiongkok mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan nasional. Kedatangan Menlu Iran ke Tiongkok disebut sebagai bagian dari konsultasi diplomatik.
Pengumuman berakhirnya operasi perang AS melawan Iran dinilai sebagai upaya AS menjaga kestabilan internasional, terutama menyangkut Selat Hormuz.
Meski mengumumkan perang berakhir, Presiden AS Donald Trump tetap bersikeras Iran harus mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah. Trump mengklaim kondisi Iran saat ini sudah sangat terpuruk.
Benarkah perang antara AS dan Iran benar-benar telah berakhir? Sebab, persoalan di Selat Hormuz hingga kini belum selesai, terkait penutupan selat oleh Iran dan blokade kapal yang keluar dari kawasan tersebut.
kita bahas bersama dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret Surakarta, Septyanto Galan Prakoso, serta pengamat Timur Tengah, Nasir Tamara.
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/internasional/667432/dosen-hi-dan-pengamat-timteng-soal-as-umumkan-perang-berakhir-tapi-minta-iran-kibarkan-bendera-putih