Iran selalu banyak cara bertahan dari sanksi dan blokade Amerika Serikat. Selama empat dekade, Iran lihai melakukan "kucing-kucingan" di laut melalui strategi Pom Bensin Apung untuk menembus tembok sanksi Barat.
Dengan memanfaatkan zona abu-abu di perairan EOPL (dekat Malaysia dan Singapura), armada tanker raksasa Iran melakukan transfer minyak antar-kapal secara rahasia, mematikan pelacak satelit, hingga memalsukan dokumen agar minyak mereka "bersalin rupa" menjadi produk Malaysia sebelum masuk ke kilang-kilang China. Taktik ini terbukti ampuh menjaga napas ekonomi Teheran tetap stabil meski jalur keuangan resmi mereka diisolasi total.
Saat blokade, memang minyak Iran akhirnya menumpuk di kawasan, ini berisiko. Apakah Iran kalah strategi? nyatanya tidak. Mengakali penumpuka minyak di gudang, Iran menyulap kapal-kapal tanker tua menjadi gudang apung di kawasan, sembari terus menekan AS yang juga dikejar waktu untuk mengakhiri perang.
AS sendiri dikenakan 'deadline' pada 1 Mei 2026 untuk memastikan nasib perang dengan persetujuan kongres. Trump butuh persetujuan kongres, jika ditolak pasukan harus balik kandang. Di sisi lain, para analis tidak yakin Trump mampu melakukan blokade panjang yang menguras biaya dan juga mempertaruhkan pemilu November 2026 mendatang.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Future - Anno Domini Beats
#global #konflik ##kompascomlab #Iran #SelatHormuz #MinyakIran