JAKARTA, KOMPASTV - Guna melindungi kebebasan navigasi di Selat Hormuz, Inggris dan Prancis memimpin pertemuan dengan perwakilan militer dari sedikitnya 40 negara.
Pertemuan ini membahas strategi misi pembukaan kembali Selat Hormuz di tengah meningkatnya tensi Iran dan Amerika Serikat.
Lantas, apakah upaya ini mampu membuat kedua pihak melunak?
Pengamat Militer CIDE, Anton Aliabbas, menilai langkah Iran merupakan respons atas tekanan dari Amerika Serikat.
Menurutnya, potensi eskalasi tetap terbuka jika Washington memilih opsi militer.
“Sekalipun operasi defensif, apakah hanya memukul mundur atau disertai retaliasi ke instalasi minyak Iran, itu yang diharapkan AS. Ketika kita bicara Iran, ini adalah imbas dari sikap AS. Iran melakukan blockade karena mereka diganggu AS,” kata Anton Aliabbas dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Jumat (24/4/2026).
Sementara itu, Pengamat Senior Timur Tengah, Musthafa Abdul Rahman, menilai langkah Inggris dan Prancis masih bersifat defensif.
Ia menyebut pengerahan pasukan belum menjadi opsi utama, selama peluang perdamaian masih terbuka.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Joshua
Baca Juga Ressa Maulani Dorong Kolaborasi Industri Lewat Marketing dan Tren Padel di https://www.kompas.tv/advertorial/664957/ressa-maulani-dorong-kolaborasi-industri-lewat-marketing-dan-tren-padel
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/internasional/664970/ketegangan-memuncak-inggris-prancis-pimpin-pembebasan-selat-hormuz-ini-kata-pengamat-sapa-pagi